Kamis, 02 Maret 2017

Maaf

Pada reliku mati. Uluran menghampiri.
"Hei, mari terbang!"
Reliku mengangguk melepas langkah terpulir
"Aku menumbuhkan sayap kelak saja. Sejenak seret aku."
Bila telah terseret dan lelah yang tumbuh, sayap terlukis pun tidak.
"Aku tak bisa menarik ulurmu. Tangan tak mau menggenggam."
"Aku harus memotong tangan ini?"
"Lebih baik dari pada lehermu kelak"
Tangan berdarah. Reliku pergi.

0 komentar:

Posting Komentar

Tengs buat yang udah walking2 di blog saya...
Dan tengs lagi buwad yang udah menuliskan komentarnya..
Salam Kenaaal....^,,^